INTERELASI
NILAI JAWA DAN ISLAM PADA ASPEK PENDIDIKAN DAN EKONOMI
MAKALAH
Disusun Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam dan
Budaya Jawa
Dosen pengampu : M. Rikza Chamami, M.SI.
Disusun oleh:
Vina Ainuz
Zam-Zam (123611002)
Siti Zaimah (123811026)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Dalam konteks Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan
salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena dimiliki oleh
kelompok etnik terbesar di Indonesia. Nilai-nilai Islam mamiliki arti penting bagi
kebudayaan Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa memeluk agama Islam. Dengan
demikian, hubungan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik
karena Islam dan kebudayaan Jawa yang cukup dominan pada bangsa Indonesia.
Sementara itu, usaha-usaha pendidikan agama di
masyarakat yang dikenal dengan pendidikan non-formal ternyata mampu menyediakan
kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan Islam dan memberi motivasi yang kuat bagi
umat Islam untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan lebih
sempurna. Selain itu, persoalan ekonomi sebagai bagian dari bidang realitas
kehidupan masyarakat Jawa, cukup menarik untuk diperbincangkan sehubungan
dengan usaha sungguh-sungguh bangsa Indonesia untuk meningkatkan efisiensi
nasional dalam rangka memperbaiki produk-produk Indonesia di pasar global yang
semakin terliberalisasikan.
Oleh karena itu, kami akan sedikit membahas tentang
sekolah agama Islam seperti pesantren dan apa prinsip ekonomi masyarakat Jawa
serta bagaimana interrelasi masyarakat Jawa Islam dalam aspek pendidikan dan
ekonomi.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A. Apa pengertian dan bagaiman pendidikan di Pesantren?
B. Apa saja karakteristik yang dimiliki Pesantren?
C. Apa pengertian dari ekonomi?
D. Bagaimana tinjauan dan prinsip ekonomi masyarakat Jawa?
E. Bagaimana interrelasi nilai Islam dan Jawa dalam Aspek Ekonomi?
III.
PEMBAHASAN
A. Pendidikan di Pesantren
Pesantren menurut Prof. John berasal dari bahasa Tamil, Santri yang
berarti guru mengaji. CC.Berg juga berpendapat bahwa istilah santri berasal
dari kata shastri (bahasa India) yang berarti orang yang tahu buku-buku suci
agama Hindu. Kata shastriberasal dari shastra yang
berarti pula buku-buku suci, buku agama, atau buku tentang ilmu pengetahuan.
Namun, secara konsep, pesantren dimaknai sebagai asrama dan tempat murid-murid
mengaji, khususnya dengan tujuan meningkatkan kekuatan keagamaan.
Sebagai suatu lembaga pendidikan jelas sekali bahwa pesantren
adalah lembaga pendidikan Islam yang berada diluar sistem persekolahan.
Pesantren tidak terikat dengan sistem kurikulum, perjenjangan, kelas-kelas,
atau jadwal pembelajaran terencana secara ketat. Pesantren merupakan sistem
pendidikan diluar sekolah yang berkembang di masyarakat. Oleh sebab itu, dalam
banyak hal, lembaga penddikan ini bersifat merakyat.[1]
Dalam arti luas, tradisi pendidikan Islam mucul seirama dengan proses Islamisasi. Bahkan, pendidikan mempunyai
peran penting dalam transmisi pengetahuan agama kepada masyarakat luas. Sebelum
abad ke-20 Indonesia hanya mengenal satu jenis pendidikan yang disebut dengan
‘Lembaga Pengajaran Asli’ yaitu sekolah-sekolah agama Islam dengan berbagai
bentuknya (seperti masjid, langgar, dan pesantren). Yang mana, sistem ini
menitikberatkan pada pendidikan membaca al-Qur’an, pelaksanaan shalat, dan
pelajaran tentang kewajiban-kewajiban pokok agama.
Di Jawa, secara tradisional sekolah-sekolah al-Qur’an tidak memiliki
sebutan khusus. Oleh orang Jawa, tempat pendidikan al-Qur’an disebut Nggon
Ngaji, yang berarti tempat murid belajar membaca al-Qur’an tahap
permulaan. Sedangkan kegiatannya disebut dengan Ngaji Qur’an. Dengan
demikian, masyarakat muslim di Indonesia secara tradisional pendidikan telah
dijalankan pada dua jenjang, yaitu pengajian al-Qur’an sebagai pendidikan dasar
dan pondok pesantren sebagai pendidikan lanjutan.[2]
B.
Karakteristik Pesantren
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang unik dan
memiliki karakteristik yang membedakan dengan lembaga pendidikan lain. Seperti
:
1.
Pondok
Pondok berasal dari
kata Arab Funduq yang berarti hotel atau asrama. Pondok
berfungsi sebagai asrama bagi santri, pondok merupakan ciri khas dari pesantren
yang membedakan dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang
berkembang di wilayah Islam negara lain.
2.
Masjid
Suatu pesantren mutlak
mesti memiliki masjid, sebab disitulah pada mulanya dilaksanakan proses belajar
mengajar, komunikasi kyai dan santri. Masjid merupakan elemen yang tidak dapat
dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk
mendidik para santri.
3.
Santri
Santri adalah
seseorang yang alim atau berilmu yang bisa dikatakan sebagai murid yang sedang
menimba ilmu di suatu pesantren. Ada santri mukim dan juga santri kalong.
4.
Kiai
Kiai merupakan seorang
ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar
kitab-kitab Islam kepada para santrinya.
5.
Metode pengajaran kitab-kitab
Pesantren juga
memiliki ciri khas yang unik lainnya, yaitu metode pengajaran kitab dengan cara
bandongan, sorogan dan hafalan.
6.
Keluarga
Secara normatif,
keluarga terasuk dalam lembaga pendidikan luar sekolah. Islam memandang
keluarga sebagai bentuk lembaga pendidikan karena didalam keluarga berlangsung
pula proses kependidikan.
7.
Taman Pendidikan
al-Qur’an
TPQ adalah lembaga
pendidikan Islam tingkat dasar diluar sekolah. Pesertanya secara umum ditujukan
kepada anak usia Taman Kanak-kanak.
8.
Majelis Ta’lim
Majelis Ta’lim adalah
salah satu sarana pendidikan dalam Islam. Majelis Ta’lim lebih kita kenal
dengan istilah pengajian-pengajian yang umumnya berisi ceramah atau khotbah
keagamaan Islam.[3]
C.
Pengertian Ekonomi
Istilah kata Ekonomi berasal dari kata aikos dan nomos, yang
artinya aikos : rumah tangga dan nomos :
ilmu. Dari gabungan kata tersebut, terbentuklah pengertian ekonomi yang
menunjukkan sebuah kondisi yang merujuk pada pengertian tentang aktivitas
manusia, khususnya pada usaha untuk bisa mengolah sumber daya yang
ada di lingkungan sekitarnya sebagai alat pemenuhan kebutuhan.
Dalam kamus ilmiah populer, Ekonomi diartikan segala usaha manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna mencapai kemakmuran hidupnya, pengaturan rmah
tangga.[4]
Kata ekonomi dapat pula diartikan sebagai kegiatan manusia atau masyarakat
untuk mempergunakan unsur-unsur produksi dengan sebaik-baiknya untuk
memenuhi berbagai kebutuhan.
Secara umum, dapat didefinisikan bahwa ekonomi adalah sebuah bidang kajian
tentang pengurusan sumber daya material individu, masyarakat, dan negara untuk
meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Kerena ekonomi merupakan ilmu tentang
perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi
dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan
produksi, konsumsi, dan distribusi.
Ekonomi juga merupakan salah satu segi kebudayaan yang erat hubungannya
dengan segi-segi lain dari kebudayaan. Seumpama kita membicarakan ekonomi suatu
masyarakat, maka ada tiga masalah pokok yang pertama harus diketahui yakni :
produksi, konsumsi, dan distribusi.[5]
D.
Tinjauan dan prinsip Ekonomi Masyarakat Jawa
Secara sederhana, ekonomi diartikan sebagai kegiatan manusia atau
masyarakat untuk mempergunakan unsur-unsur produksi dengan sebaik-baiknya,
untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Oleh karena itu, proses ekonomi meliputi
proses produksi barang dan jasa, penukarannya dan pembagiannya antara
golongan-golongan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan
ekonomi secara normatif harus diberlakukan kapan saja dan dimanapun juga supaya
semua karunia Tuhan dapat disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin.
Prinsip ekonomi pada dasarnya adalah prinsip rasional yang diterapkan dalam
aspek kehidupan ekonomi, dan terjelma dalam istilah efektif dan efisien.
Efektif dalam arti, input atau potensi apa saja yang ada dan dimiliki hendaknya
dipergunakan utnuk mencapai output berupa hasil, pendapatan, keuntungan, faedah
dan sebagainya yang maksimal. Efisien berarti untuk mencapai output tersebut
hendaknya digunakan faktor produksi, bahan, waktu, pengorbanan, atau input yang
minimal. Dengan kata lain, efektif berarti maksimalisasi output, sedangkan
efisien adalah minimalisasi input.
Dalam masyarakat Jawa, prinsip ekonomi dapat dijimpai istilah-istilah atau
konsep-konsep seperti cucuk, pakoleh, ngirit, guthuk, lumayan, dan
lain-lain. Sementara itu, istilah Jawa yang memiliki arti berlawanan dari
istilah diatas antara lain boros, tanpa pethung, awur-awuran, ya ben, dipangan Bethara Kala, dan lain-lain. Disamping itu, dengan mendalami secara sungguh-sungguh
kebudayaan Jawa telah tinggi sifat-sifat rasional atau prinsip ekonomi dapat
ditemukan dalam kata kunci yang digunakam masyarakat Jawa. Diantaranya ora
ilok, kuwalat, buak dasar, tuna sanak, ora lumrah, ora umum, lali jawane dan
sebagainya.[6]
Ora ilok, istilah yang berarti bertentangan
dengan prinsip rasional, akal sehat, tidak logis. Misalnya, meludahi sumur dan
menduduki bantal, merupakan tindakan yang bertentangan dengan
prinsip rasional. Hal ini karena air sumur desediakan untuk minum orang banyak,
sedangkan bantal adalah landasan kepala sewaktu tidur.Kuwalat, adalah
kata kunci yang berarti bertentangan dengan moral atau nilai moral yang
dijunjung tinggi dalam masyarakat. Tindakan berani terhadap orang tua,
melangkahi atau melompati kuburan orang tua, dan tidak merawat benda budaya
(seperti keris, wayang, dan sebagainya) akan dikatakan kuwalat oleh
pendukung kebudayaan Jawa.
Masyarakat Jawa lebih suka memecahkan masalah kehidupannya dengan sikap
mawas diri atau tepa selira agar dapat menghindari timbulnya konflik dengan
orang lain. Dengan cara menggalih, terasakan bahwa masyarakat Jawa telah
mempraktekkan prinsip ekonomi.[7]
Disamping itu, setelah Islam masuk di Jawa, para penduduk Jawa dikenalkan
dengan sistem baru dalam bercocok tanam, seperti sistem musaqoh, muzaro’ah, dan
mukhobaroh. Yang ketiganya membahas tentang hak dan kewajiban pemilik tanah
maupun penggarap. Konsep ini belum pernah diajarkan pada orang Jawa sebelumnya.
E.
Interelasi Nilai Islam dan Jawa dalam Aspek Ekonomi
Dalam Islam, sistem ekonomi yang diterapkan oleh Rasulullah SAW. berakar
dari prinsip-prinsip Qur’ani. Al-Qur’an yang merupakan sumber utama ajaran
Islam, telah menetapkan berbagai aturan sebagai hidayah (petunjuk) bagi umat
manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dalam aspek kehidupannya,
termasuk bidang ekonomi. Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasaan
tertinggi hanya kepada Allah SWT. Semata dan manusia diciptakan sebagai
khalifah-Nya dimuka bumi. SebagaiKhalifatullah fi al-ardh, manusia
telah diciptakan dalam bentuk yang paling baik dari seluruh ciptaan lainnya,
seperti matahari, bulan dan langit telah ditakdirkan untuk dimanfaatkan oleh
manusia. Hal ini merupakan suatu anugerah, rahmat, serta kasih sayang Allah SWT
yang sangat besar terhadap umat manusia.[8]
Kenyataan bahwa kegiatan-kegiatan ekonomi tidak terlepas dari
kepercayaan-kepercayaan mitologis, sehingga pemahaman hal-hal demikian tidak
bisa terlepas atau dilepaskan dari kepercayaan keagamaan. Keterkaitan antara
kegiatan ekonomi dengan nilai-nilai kepercayaan mitologis, dan bagaimana
kepercayaan itu diwujudkan secara operasional kedalam kegiatan ekonomi yang
dimaksud, dalam kehidupan santri antara lain adanya konsep tawasul kepada
Syekh Abdul Qadir dan lewat konsep itu pula ritual-ritual khusus dilakukan
seperti yang selama ini dikenal dengan Manaqiban.
Sedangkan dikalangan masyarakat Jawa dapat dikategorikan kedalam tiga
sub-kategori, yaitu :
1. Mengikuti pola yang dilakukan kaum santri yaitu dengan melakukan ritual Manaqiban.
2. Melakukan ritual khas Jawa dengan cara melakukan ritual Rasulan.
3. Menggabungkan keduanya, yaitu selain melakukan Manaqiban, Rasulan, juga
secara khusus mengadakan ritual khusus di makam atau petilasan dan yang desa
kepada leluhurnya.[9]
Dalam masyarakat Jawa terdapat beberapa tradisi untuk mencapai kebutuhan
yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain. Salah satu contoh yang
dilakukan masyarakat Jawa untuk mencapai kebutuhannya adalah dengan melakukan
kegiatan yang sering disebut pasugihan. Tetapi kegiatan ini tidak mutlak
dilakukan oleh semua masyarakat Jawa.
Biasanya tempat-tempat yang sering digunakan untuk mencari pasugihan yaitu
tempat yang dikeramatkan dan dianggap bermanfaat untuk mencari ketenangan dalam
rangka untuk mencapai inspirasi, intuisi, dan aspirasi untuk memulai suatu
pekerjaan. Tempat-tempat yang dimaksud seperti Gunung Srandil di kabupaten
Cilacap. Gunung Kemukus di Sragen, Gunung Kawi di Malang, Gunung atau makam
sewu, Parang Tritis di Bantul, dan sebagainya.[10]
Sebenarnya pasugihan dilarang didalam agama Islam karena
hal ini sama saja dengan menyekutukan Allah SWT, karena dalam pasugihan
seseorang akan mendapat harta tanpa bekerja keras sebagai mana mestinya.
Didalam agama Islam juga mengajarkan beberapa doa-doa atau amalan-amalan yang
bisa digunakan untuk memperlancar rizki, misalnya berdoa dengan wasilah,
melakukan sholat Dhuha, tahajud dan lain-lain. Dengan hal ini diharapkan umat
manusia tidak terjerumus dalam lembah kesesatan.
Selain pasugihan, masyarakat Jawa juga melakukan tradisi lain
seperti selametan. Selametan merupakan suatu upacara yang
biasanya diadakan dirumah suatu keluarga dan dihadiri oleh anggota keluarga,
tetangga dekat, kenalan-kenalan yang tinggal tidak jauh dan termasuk juga
orang-orang yang mempunyai hubungan dagang.[11]
Nilai-nilai Islam dan Jawa kiranya bertemu dalam media selametan yang
memuat nilai-nilai tertentu. Kenyataan bahwa upacara selametan telah
disentuh dengan ajaran Islam, seperti masuknya unsur dzikir, penentuan waktu
dan maksud penyelenggaraan yang dikaitkan dengan hari-hari besar Islam. Dalam
hal ini mengakibatkan efek selametan terkadang mampu menimbulkan getaran emosi
keagamaan. Oleh karena itu, simbol-simbol yang termuat dalam selametan
mengandung prinsip ekonomi dan nilai-nilai Islam pun terakomodasi didalamnya.
IV.
SIMPULAN
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang berada
diluar sistem persekolahan. Tidak terikat dengan kurikulum,
perjenjangan, kelas-kelas atau jadwal pembelajaran. Sebelum abad ke-20
Indonesia hanya mengenal satu jenis pendidikan yaitu Lembaga Pengajaran Asli.
Yaitu sekolah agama Islam dengan berbagai bentuknya seperti masjid, langgar dan
pesantren. Adapun karakteristik pesantren adalah : pondok, masjid, santri,
kyai, metode pengajaran kitab, dan sebagainya.
Ekonomi adalah sebuah bidang kajian tentang pengurusan
sumberdaya material individu, masyarakat, dan negara untuk meningkatkan
kesejahteraan hidup manusia. Ekonomi juga merupakan salah satu segi kebudayaan
yang erat hubungannya dengan segi-segi lain dari kebudayaan. Seumpama kita
membicarakan ekonomi suatu masyarakat, maka terdapat tiga masalah yang harus
diketahui yakni : produksi, konsumsi, dan distribusi.
Dalam masyarakat Jawa, prinsip ekonomi dapat dijumpai
istilah-istilah atau konsep-konsep seperti cucuk, pakoleh, ngirit, dan
lain-lain. Sementara itu, istilah Jawa yang memiliki arti berlawanan dari
istilah diatas antara lain boros, tanpa pethung, awur-awuran, dan
lain-lain. Disamping itu, dengan mendalami secara sungguh-sungguh kebudayaan
Jawa telah tinggi sifat-sifat rasional atau prinsip ekonomi dapat ditemukan
dalam kata kunci yang digunakam masyarakat Jawa. Diantaranya ora ilok,
kuwalat, buak dasar, tuna sanak, ora lumrah, ora umum, lali jawane dan
sebagainya.
Dalam aspek ekonomim interrelasi nilai Islam dan Jawa
dapat dilihat dari tradisi seperti pesugihan dan selametan. Pesugihan merupakan
kegiatan untuk mencapai kebutuhan yang biasanya dilakukan ditempat yang
dikeramatkan dengan tujuan untuk mencari ketenangan agar mendapat inspirasi.
Sedangkan selametan merupakan upacara yang telah disentuih dengan ajaran Islam,
seperti masuknya unsur dzikir, penentuan waktu dan maksud penyelenggaraan yang
dikaitkan dengan hari besar Islam yang terkadang mampu menimbulkan getaran
emosi keagamaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Huda,
Nur. Islam Nusantara. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA. 2007
Jamil,
Abdul, dkk. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: GAMA MEDIA. 2000
Karim,
Adiwarman Azwar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004
Mahjunir. Pokok-pokok Antropologi dan
Kebudayaan. Jakarta: Bhratara. 1967
Mudjahirin
Thohir. Orang Islam Jawa Pesisira. Semarang: Fasindo Press. 2006
Muliawan,
Jasa Ungguh. Pendidikan Islam Integratif. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2005
Rajasa,
Sutan. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Karya Utama. 2002
BIODATA SINGKAT PEMAKALAH
Nama :
Vina Ainuz Zam-Zam
NIM :
123611002
Jurusan :
Pendidikan Fisika
Alamat :
Desa GinggangTani 04/01, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan
Riwayat Pendidikan :
SD N 1 GinggangTani, Gubug, Grobogan
MTs N Jeketro, Gubug, Grobogan
MAN Demak
UIN Walisongo Semarang
No. HP :
085712968258
Email :
vina.zamzam@gmail.com
Nama :
Siti Zaimah
NIM :
123611026
Jurusan :
Pendidikan Fisika
Alamat :
Desa Mojokerto 01/01, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang
Riwayat Pendidikan :
SD N 1 Mojokerto, Kragan, Rembang
MTs YSPIS Gandrirojo, Rembang
MA YSPIS Gandrirojo, Rembang
UIN Walisongo Semarang
No. HP :
085641303859
Email :
zaim.alfarisy@gmail.com
[1] Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam
Integratif, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005, hlm.
155-156.
[3]
Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan
Islam Integratif, Yogykarta : Pustaka Belajar, 2005, hlm.
157-161.
[8]
Adiwarman Azwar Karim, Sejarah
Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, hlm.
29-30.
