Selasa, 06 Januari 2015

Makalah-Penyuntingan Karya Tulis Ilmiah

MAKALAH
PENYUNTINGAN KARYA TULIS ILMIAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M.Si




Disusun Oleh:
1.            Nourma F Fauziyah               (123611001)
2.            Vina Ainuz Zam-zam            (123611002)
3.            Zulis Tianingrum                   (123611030)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2015


       I.            PENDAHULUAN
Dalam penulisan karya tulis ilmiah proses penyuntingan sangat penting untuk dilakukan. Penyuntingan merupakan aktivitas  menyiapkan  naskah dan sebagainya untuk diedarkan atau diterbitkan dalam bentuk cetakan dengan memperhatikan tata penyajiannya.
Di dalam karya tulis ilmiah penyuntingan atau pengeditan dilakukan pada isi, paragraf, ragangan atau outline, dan kebahasaan. Karya tulis ilmiah yang baik adalah jika isi tulisan tersebut mengena di telinga para pembaca, oleh karenanya  karya tulis ilmiah yang baik harus ditunjang dengan isi yang berbobot. Karya tulis ilmiah juga dikatakan baik jika mengandung paragraf yang efektif di mana  paragraf tersebut berisi kalimat-kalimat yang efektif.
Dalam proses penyuntingan yang dilakukan pada isi, paragraf, ragangan atau outline, harus memperhatikan aturan-aturan yang telah di tentukan. Misalnya dalam penyuntingan paragraf perlu memperhatikan susunan kata, dalam penyuntingan ragangan perlu memeperhatikan kesempurnaan dari gagasan karya tulis dan lain sebagainya.
Dapat dikatakan bahwa baik atau tidakanya suatu karya tulis ilmiah harus mampu lolos dari proses editing karya tulis ilmiah.

    II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah hakikat penyuntingan karya tulis ilmiah ?
2.      Bagaimana cara mengedit isi/materi/gagasan di dalam karya tulis ilmiah ?
3.      Bagaimana cara mengedit suatu paragraf di dalam karya tulis ilmiah ?
4.      Bagaimana cara mengedit suatu ragangan di dalam karya tulis ilmiah ?
5.      Bagaimana cara mengedit kebahasaan di dalam karya tulis ilmiah ?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Hakikat Penyuntingan Karya Tulis Ilmiah
Naskah atau tulisan yang telah selesai ditulis secara keseluruhan pasti belum sempurna, belum layak untuk dipublikasikan. Di bagian-bagian terterntu terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat berakibat fatal, sehingga diperlukan kegiatan perbaikan. Proses perbaikan disini dinamakan editing atau penyuntingan. Editing adalah proses memperbaiki naskah dengan cara mengoreksi, memeriksa, atau meneliti kembali apa yang telah ditulis sebelum diterbitkan. Penyempurnaan tulisan agar siap diterbitkan perlu dibaca dan ditata ulang oleh penulisnya atau orang lain yang dianggap berkemampuan atau disebut sebagai editor.[1] Kegiatan penyuntingan memiliki bebrapa tujuan, diantaranya adalah :
1.      Menjadikan naskah atau karangan ilmiah sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
2.      Untuk memastikan isi karya disampaikan dengan jelas, tepat dan tidak menyalahi etika.
3.      Untuk memastikan penyampaian ide dari penulis kepada pembaca disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
4.      Untuk memastikan karya yang akan diterbitkan dapat menggambarkan nilai dan identitas karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
Pekerjaan penyuntingan bukan merupakan pekerjaan yang ringan sehingga tidak dapat dijadikan kegiatan sampingan. Di berbagai media massa cetak, profesi penyunting sudah menjajikan penghasilan yang basah. Namun terdapat pula di beberapa media massa yang masih mengenyampingkan kegiatan penyuntingan ini. Dan setiap sepak terjang penyunting harus didasarkan pada pemahaman seperangkat kode etik cara bersikap dan bekerja. Karena dalam hal ini seorang penyunting terikat dalam urusan kerja dengan media massa.
Penyunting atau editor dituntut untuk memahami berbagai gatra penyuntingan dan proses penerbitan ataupun produksi percetakan naskah. Menurut Rifai untuk dapat memenuhi fungsinya dengan baik, seorang penyunting harus mempunyai modal waktu, kemauan, kemampuan, disiplin kerja, serta peralatan penunjang penyuntingan. Untuk mencapai sasaran penyuntingan yang diharapkan, menjadi hak penyunting untuk memperbaiki, merevisi, mengatur kembali isi, dan menyelaraskan atau terkadang mengubah gaya naskah.
Yang perlu diingat kembali ialah bahwa tugas penyunting hanyalah terbatas pada pengolahan naskah menjadi bahan yang siap cetak dan mengawasi pelaksanaan segi teknis sampai naskah terbit. Dapat dikatakakan pula bahwa semata-mata bertanggung jawab atas isi naskah dari karya tulis ilmiah tersebut.
Naskah yang sudah diedit oleh editor kemudian perlu diedit lagi apalagi masih terdapat kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal. Terdapat berbagai sikap dan cara kerja yang sangat disarankan untuk dipenuhi oleh penyunting dalam menunaikan tugas dan fungsinya sebagai berikut :
1.      Tujuan utama penyunting adalah mengolah naskah hingga layak terbit sesuai dengan patokan pembakuan yang digariskan dan dipersyaratkan, minimal dari segi bahasa.
2.      Penyunting perlu memiliki pikiran terbuka terhadap pendapat-pendapat baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat yang dianut umum.
3.      Penyunting tidak boleh memenangkan pendapatnya sendiri, pendapat temannya, atau pendapat penulis yang disenanginya sehingga tidak terjadi pilih kasih berdasarkan pada hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan isi teknis naskah.
4.      Penyunting harus merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah agar gagasan, pendekatan, metode, hasil penemuan, dan simpulan tidak sampai disadap orang lain sebelum diterbitkan.
5.      Merupakan tindakan kriminal seorang penyunting untuk mendiamkan naskah atau menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari naskah lalu menerbitkannya atas namanya sendiri baru kemudian menolaknya.[2]

B.     Editing Isi/Materi/Gagasan
Pada dasarnya ketebalan atau tipisnya suatu halaman buku terletak pada banyak atau sedikitnya materi yang tertuang dalam buku tersebut. Atau dapat dikatakan bahwa ketebalan buku tersebut sangat berkaitan dengan jumlah halaman yang menggambarkan isi/materi/gagasan dari buku tersebut. Biasanya buku yang memiliki jumlah halamannya kurang tidak akan memberikan daya tarik, terutama dalam hal penyimpanan dan pendokumentasian. Sehingga isi/materi/gagasan dalam suatu karya tulis ilmiah memiliki peran sangat penting, atau dapat dikatakan sebagai gizi dari suatu karya tulis ilmiah tersebut.
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam penyuntingan terhadap isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Pada intinya yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah dengan cara pengurangan, penggantian, dan penambahan isinya yang relevan dengan topik dan tema kajiannya.[3]
Jika suatu isi/materi/gagasan dari karya tulis ilmiah dianggap tidak atau kurang relevan dengan topik kajiannya, yang mana ini merupakan langkah pengurangan dari isi/materi/gagasa, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menggantinya dengan topik yang sedang dibahas. Kalau juga memungkinkan ada sumber lain yang lebih aktual dan akurat, seorang penulis juga dapat saja menambahkan isi/materi/gagasan tersebut untuk melengkapinya. Misalnya dengan menambah suatu grafik, tabel, gambar atau dapat menambahkan data lainnya yang dianggap perlu. .
Kegunaan penyuntingan isi/gagasan/materi dari karya tulis ilmiah ini selain berkaitan dengan akurasi data, informasi yang faktual, juga untuk menambah wawasan ilmu dan pengetahuan penulis dan pembacanya. Dengan demikian secara langsung dapat menambah ketebalan halaman yang mana mencapai ukuran ideal sebuah karya tulis ilmiah yang akan diterbitkan. Namun, seorang penulis juga jangan sampai terjebak oleh suatu keinginan hanya untuk mempertebal jumlah halaman tanpa memperhatikan isi/materi/gagasan yang dituliskannya.[4]

C.    Editing Paragraf
Kegiatan editing isi/materi/gagasan dari suatu karya tulis ilmiah akan berpengaruh pula terhadap kepadatan paragraf, sehingga menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan antar paragraf. Paragraf yang tidak berimbang seperti ini dapat mempengaruhi nilai estetika buku. Dengan demikian penyuntingan berikutnya harus diarahkan terhadap bentuk idealis paragraf. Ketebalan ideal sebuah paragraf sebanyak 7-10 baris.[5]
Hubungan antar kalimat dan antar alinea mestinya merupakan mata rantai pemikiran yang sambung-menyambung.[6] Suatu paragraf dari tulisan dapat diibaratkan sebagai daging dari tulisan tersebut. Maka dari itu, keseimbangan penulisan antar paragraf dalam sebuah karya tulis ilmiah sangat diperlukan. Penyeimbangan ini dibutuhkan untuk memenuhi standar estetika buku ketika dilakukan penilaian dalam sebuah kompetisi. Paragraf yang terlalu tebal akan dapat mempengaruhi daya baca sesorang dalam memahami teks, sedangkan ketipisan paragraf juga dapat dikhawatirkan tidak mewakili gagasan yang disampaikan penulis.
Sehingga dapat dikatakan pula bahwa dalam penyuntingan paragraf akan menjadikan paragraf tersebut lebih efektif. Sebuah kalimat dikatakan efektif jika dapat menginformasikan (satu) gagasan atau maksud penulis dengan jelas dan tanpa kemungkinan mengandung arti ganda terlebih dalam suatu tulisan ilmiah. Rangkaian dari kalimat efektif akan membentuk paragraf yang efektif pula. Sehingga sebuah paragraf dikatakan efektif  jika dapat menginformasikan berbagai gagasan atau maksud penulis dalam alur pikiran yang lancar, logis, tepat dan koheren dalam kaitannya dengan paragraf-paragraf lain yang tersusun membentuk satu unit yang utuh.

D.    Editing Ragangan
Jika suatu isi/materi/gagasan diibaratkan sebagai gizi tulisan dan paragraf diibaratkan sebagai daging, maka ragangan atau outline disini diibaratkan sebagai tulang-tulang yang mengikat daging yang mengandung gizi tersebut. Maka dari itu, suatu ragangan dalam penulisan karya tulis ilmiah harus disusun secara sistematis berdasarkan topik dan subtopiknya.
Sistematika ragangan sendiri berkaitan dengan urut-urutan dan letak subtopik pembahasan yang akan ditulis. Ragangan dalam penulisan buku yang telah ditetapkan sejak awal bukan merupakan harga mati. Dalam arti, ragangan yang tidak sesuai dengan isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah masih bisa dibongkar-pasang untuk menyesuaikannya. Sama halnya dengan judul tulisan yang sudah di-setting sejak awal boleh saja digonta-ganti sesuai dengan tema yang disajikannya.[7]
Ragangan dapat saja diubah saat penulisan sedang berjalan atau nanti diakhir penulisan. Cara yang dapat dilakukan untuk menyunting ragangan karya tulis ilmiah adalah dengan cara mengurangi, mengganti, ataumenambahkan sesuai dengan subtopik kajian. Hal ini hampir mirip dengan cara penyuntingan isi/materi/gagasan karya tulis ilmiah.
Pada dasarnya ragangan atau outline yang sudah ditulis sejak awal penulisan harus sudah disesuaikan dengan apa yang akan dibahas dalam isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Hal ini dikarenakan akan lebih mudah dalam mengganti ragangan atau outline daripada harus menulis ulang tema kajiannya. Namun penyuntingan terhadap ragangan atau outline yang terbaik adalah pada saat finalisasi penulisan, hal ini sekaligus dalam menentukan halaman pada daftar isi buku.

E.     Editing Kebahasaan
Penulisan karya ilmiah tidak bisa ditulis sembarangan, melainkan harus menggunakan bahasa yang formal/semi formal. Editing atau penyuntingan terhadap bahasa perlu dilakukan sebelum buku itu diterbitkan meliputi penggunaan EYD. Bahasa adalah lambang budaya bangsa, sehingga harus ditulis menggunakan bahasa yanga baik dan benar.
Editing kebahasaan mempunyai banyak fungsi, diantaranya untuk standarisasi sebuah buku dan untuk memperindah bahasa tulisan.[8] Bahasa yang indah akan menarik minat pembaca serta mempercepat pemahaman pembaca.




 IV.            KESIMPULAN
1.      Editing adalah proses memperbaiki naskah dengan cara mengoreksi, memeriksa, atau meneliti kembali apa yang telah ditulis sebelum diterbitkan. Kegiatan penyuntingan memiliki bebrapa tujuan, diantaranya adalah :
a.       Menjadikan naskah atau karangan ilmiah sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
b.      Untuk memastikan isi karya disampaikan dengan jelas, tepat dan tidak menyalahi etika.
c.       Untuk memastikan penyampaian ide dari penulis kepada pembaca disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
d.      Untuk memastikan karya yang akan diterbitkan dapat menggambarkan nilai dan identitas karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
2.      Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam penyuntingan terhadap isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Pada intinya yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah dengan cara pengurangan, penggantian, dan penambahan isinya yang relevan dengan topik dan tema kajiannya.
3.      Penyuntingan paragraf akan menjadikan paragraf tersebut lebih efektif. sebuah paragraf dikatakan efektif  jika dapat menginformasikan berbagai gagasan atau maksud penulis dalam alur pikiran yang lancar, logis, tepat dan koheren dalam kaitannya dengan paragraf-paragraf lain yang tersusun membentuk satu unit yang utuh.
4.      Cara untuk menyunting ragangan karya tulis ilmiah adalah dengan cara mengurangi, mengganti, ataumenambahkan sesuai dengan subtopik kajian. Hal ini hampir mirip dengan cara penyuntingan isi/materi/gagasan karya tulis ilmiah.
5.      Editing atau penyuntingan terhadap bahasa perlu dilakukan sebelum buku itu diterbitkan meliputi penggunaan EYD. Fungsi editing : untuk standarisasi sebuah buku dan untuk memperindah bahasa tulisan.


DAFTAR PUSTAKA
A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008

Lasa HS, Menulis Itu Segampang Ngomong, Yogyakarta: Pinus , 2009

Sugihati , Bahasa Laporan Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007


























BIODATA
Nama               : Nourma Fahmatullahil Fauziyah
NIM                : 123611001
Fakultas           : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan            : Tadris Fisika
T.T.L.              :  Grobogan, 08 Juli 1994
Alamat                        : Jl. Untung suropati X Plendungan Purwodadi Grobogan
No HP             : 085640592464
Pendidikan      : SD N 10 Purwodadi (2001-2006)
  MTs. NU Banat Kudus (2006 - 2009)
                        MA NU Banat Kudus (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri  Walisongo Semarang (2012 – sekarang )
                        Email               : nourmaozi08@gmail.com

Nama               : Vina Ainuz Zam-zam
NIM                : 123611002
Fakultas           : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan            : Tadris Fisika
T.T.L.              :  Grobogan, 13 Desember 1994
Alamat                        : Ginggang Tani Rt. 04/01 Gubug Grobogan
No HP             : 085712968258
Pendidikan      : SD N 1 Ginggang Tani (2001-2006)
  MTs. N Jeketro (2006 - 2009)
                        MAN Demak (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri  Walisongo Semarang (2012 – sekarang )
                        Email               : vina.zamzam@gmail.com

Nama               : Zulis Tianingrum
NIM                : 123611030
Fakultas           : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan            : Tadris Fisika
T.T.L.              :  Pati, 19 Juni 1994
Alamat                        : Desa Kletek Rt. 04/02 Pucakwangi Pati
No HP             : 081904452619
Pendidikan      : SD N Kletek 01 (2001-2006)
  MTs. Matholi’ul Huda Pucakwangi (2006 - 2009)
                        MA Matholi’ul Huda Pucakwangi (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri  Walisongo Semarang (2012 – sekarang )
                        Email               : zulidriz70@gmail.com






[1]  A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 100

[2]  Sugihati , Bahasa Laporan Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, hlm. 105
[3]  A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 101
[4] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 102
[5] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 102
[6] Lasa HS, Menulis Itu Segampang Ngomong, Yogyakarta: Pinus , 2009, hlm. 190
[7] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 103
[8] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 103