MAKALAH
PENYUNTINGAN KARYA TULIS ILMIAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M.Si
Disusun
Oleh:
1.
Nourma F
Fauziyah (123611001)
2.
Vina Ainuz
Zam-zam (123611002)
3.
Zulis
Tianingrum (123611030)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI WALISONGO SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Dalam penulisan karya tulis ilmiah proses penyuntingan sangat penting
untuk dilakukan. Penyuntingan merupakan aktivitas menyiapkan
naskah dan sebagainya untuk diedarkan atau diterbitkan dalam bentuk
cetakan dengan memperhatikan tata penyajiannya.
Di dalam karya tulis ilmiah penyuntingan atau pengeditan dilakukan pada
isi, paragraf, ragangan atau outline, dan kebahasaan. Karya tulis ilmiah yang
baik adalah jika isi tulisan tersebut mengena di telinga para pembaca, oleh
karenanya karya tulis ilmiah yang baik
harus ditunjang dengan isi yang berbobot. Karya tulis ilmiah juga
dikatakan baik jika mengandung paragraf yang efektif di mana paragraf tersebut berisi kalimat-kalimat yang
efektif.
Dalam proses penyuntingan yang dilakukan pada isi, paragraf, ragangan
atau outline, harus memperhatikan aturan-aturan yang telah di tentukan. Misalnya
dalam penyuntingan paragraf perlu memperhatikan susunan kata, dalam
penyuntingan ragangan perlu memeperhatikan kesempurnaan dari gagasan karya
tulis dan lain sebagainya.
Dapat dikatakan bahwa baik atau tidakanya suatu karya tulis ilmiah harus mampu lolos dari
proses editing karya tulis ilmiah.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah
hakikat penyuntingan karya tulis ilmiah ?
2.
Bagaimana
cara mengedit isi/materi/gagasan di dalam karya tulis ilmiah ?
3.
Bagaimana
cara mengedit suatu paragraf di dalam karya tulis ilmiah ?
4.
Bagaimana
cara mengedit suatu ragangan di dalam karya tulis ilmiah ?
5.
Bagaimana
cara mengedit kebahasaan di dalam karya tulis ilmiah ?
III.
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Penyuntingan Karya Tulis Ilmiah
Naskah atau tulisan yang telah selesai ditulis secara keseluruhan
pasti belum sempurna, belum layak untuk dipublikasikan. Di bagian-bagian
terterntu terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat berakibat fatal, sehingga
diperlukan kegiatan perbaikan. Proses perbaikan disini dinamakan editing
atau penyuntingan. Editing adalah proses memperbaiki naskah dengan cara
mengoreksi, memeriksa, atau meneliti kembali apa yang telah ditulis sebelum
diterbitkan. Penyempurnaan tulisan agar siap diterbitkan perlu dibaca dan
ditata ulang oleh penulisnya atau orang lain yang dianggap berkemampuan atau
disebut sebagai editor.[1]
Kegiatan penyuntingan memiliki bebrapa tujuan, diantaranya adalah :
1.
Menjadikan
naskah atau karangan ilmiah sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan
dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
2.
Untuk
memastikan isi karya disampaikan dengan jelas, tepat dan tidak menyalahi etika.
3.
Untuk
memastikan penyampaian ide dari penulis kepada pembaca disampaikan dalam bahasa
yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
4.
Untuk
memastikan karya yang akan diterbitkan dapat menggambarkan nilai dan identitas
karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
Pekerjaan penyuntingan bukan merupakan pekerjaan yang ringan
sehingga tidak dapat dijadikan kegiatan sampingan. Di berbagai media massa
cetak, profesi penyunting sudah menjajikan penghasilan yang basah. Namun
terdapat pula di beberapa media massa yang masih mengenyampingkan kegiatan
penyuntingan ini. Dan setiap sepak terjang penyunting harus didasarkan pada
pemahaman seperangkat kode etik cara bersikap dan bekerja. Karena dalam hal ini
seorang penyunting terikat dalam urusan kerja dengan media massa.
Penyunting atau editor dituntut untuk memahami berbagai gatra
penyuntingan dan proses penerbitan ataupun produksi percetakan naskah. Menurut
Rifai untuk dapat memenuhi fungsinya dengan baik, seorang penyunting harus
mempunyai modal waktu, kemauan, kemampuan, disiplin kerja, serta peralatan
penunjang penyuntingan. Untuk mencapai sasaran penyuntingan yang diharapkan,
menjadi hak penyunting untuk memperbaiki, merevisi, mengatur kembali isi, dan
menyelaraskan atau terkadang mengubah gaya naskah.
Yang perlu diingat kembali ialah bahwa tugas penyunting hanyalah
terbatas pada pengolahan naskah menjadi bahan yang siap cetak dan mengawasi
pelaksanaan segi teknis sampai naskah terbit. Dapat dikatakakan pula bahwa
semata-mata bertanggung jawab atas isi naskah dari karya tulis ilmiah tersebut.
Naskah yang sudah diedit oleh editor kemudian perlu diedit lagi
apalagi masih terdapat kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal. Terdapat
berbagai sikap dan cara kerja yang sangat disarankan untuk dipenuhi oleh
penyunting dalam menunaikan tugas dan fungsinya sebagai berikut :
1.
Tujuan
utama penyunting adalah mengolah naskah hingga layak terbit sesuai dengan
patokan pembakuan yang digariskan dan dipersyaratkan, minimal dari segi bahasa.
2.
Penyunting
perlu memiliki pikiran terbuka terhadap pendapat-pendapat baru yang mungkin
bertentangan dengan pendapat yang dianut umum.
3.
Penyunting
tidak boleh memenangkan pendapatnya sendiri, pendapat temannya, atau pendapat
penulis yang disenanginya sehingga tidak terjadi pilih kasih berdasarkan pada
hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan isi teknis naskah.
4.
Penyunting
harus merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah agar gagasan,
pendekatan, metode, hasil penemuan, dan simpulan tidak sampai disadap orang
lain sebelum diterbitkan.
5.
Merupakan
tindakan kriminal seorang penyunting untuk mendiamkan naskah atau menggunakan
pengetahuan yang diperoleh dari naskah lalu menerbitkannya atas namanya sendiri
baru kemudian menolaknya.[2]
B.
Editing Isi/Materi/Gagasan
Pada dasarnya ketebalan atau tipisnya suatu halaman buku terletak
pada banyak atau sedikitnya materi yang tertuang dalam buku tersebut. Atau
dapat dikatakan bahwa ketebalan buku tersebut sangat berkaitan dengan jumlah
halaman yang menggambarkan isi/materi/gagasan dari buku tersebut. Biasanya buku
yang memiliki jumlah halamannya kurang tidak akan memberikan daya tarik, terutama
dalam hal penyimpanan dan pendokumentasian. Sehingga isi/materi/gagasan dalam
suatu karya tulis ilmiah memiliki peran sangat penting, atau dapat dikatakan
sebagai gizi dari suatu karya tulis ilmiah tersebut.
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam penyuntingan terhadap
isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Pada intinya yang dapat dilakukan
dalam hal ini adalah dengan cara pengurangan, penggantian, dan penambahan
isinya yang relevan dengan topik dan tema kajiannya.[3]
Jika suatu isi/materi/gagasan dari karya tulis ilmiah dianggap
tidak atau kurang relevan dengan topik kajiannya, yang mana ini merupakan
langkah pengurangan dari isi/materi/gagasa, maka yang perlu dilakukan
selanjutnya adalah menggantinya dengan topik yang sedang dibahas. Kalau juga
memungkinkan ada sumber lain yang lebih aktual dan akurat, seorang penulis juga
dapat saja menambahkan isi/materi/gagasan tersebut untuk melengkapinya.
Misalnya dengan menambah suatu grafik, tabel, gambar atau dapat menambahkan
data lainnya yang dianggap perlu. .
Kegunaan penyuntingan isi/gagasan/materi dari karya tulis ilmiah
ini selain berkaitan dengan akurasi data, informasi yang faktual, juga untuk
menambah wawasan ilmu dan pengetahuan penulis dan pembacanya. Dengan demikian
secara langsung dapat menambah ketebalan halaman yang mana mencapai ukuran
ideal sebuah karya tulis ilmiah yang akan diterbitkan. Namun, seorang penulis
juga jangan sampai terjebak oleh suatu keinginan hanya untuk mempertebal jumlah
halaman tanpa memperhatikan isi/materi/gagasan yang dituliskannya.[4]
C.
Editing Paragraf
Kegiatan editing isi/materi/gagasan dari suatu karya tulis ilmiah
akan berpengaruh pula terhadap kepadatan paragraf, sehingga menyebabkan
terjadinya ketidak seimbangan antar paragraf. Paragraf yang tidak berimbang
seperti ini dapat mempengaruhi nilai estetika buku. Dengan demikian
penyuntingan berikutnya harus diarahkan terhadap bentuk idealis paragraf.
Ketebalan ideal sebuah paragraf sebanyak 7-10 baris.[5]
Hubungan antar kalimat dan antar alinea mestinya merupakan mata
rantai pemikiran yang sambung-menyambung.[6] Suatu
paragraf dari tulisan dapat diibaratkan sebagai daging dari tulisan tersebut.
Maka dari itu, keseimbangan penulisan antar paragraf dalam sebuah karya tulis
ilmiah sangat diperlukan. Penyeimbangan ini dibutuhkan untuk memenuhi standar
estetika buku ketika dilakukan penilaian dalam sebuah kompetisi. Paragraf yang
terlalu tebal akan dapat mempengaruhi daya baca sesorang dalam memahami teks,
sedangkan ketipisan paragraf juga dapat dikhawatirkan tidak mewakili gagasan
yang disampaikan penulis.
Sehingga dapat dikatakan pula bahwa dalam penyuntingan paragraf
akan menjadikan paragraf tersebut lebih efektif. Sebuah kalimat dikatakan
efektif jika dapat menginformasikan (satu) gagasan atau maksud penulis dengan
jelas dan tanpa kemungkinan mengandung arti ganda terlebih dalam suatu tulisan
ilmiah. Rangkaian dari kalimat efektif akan membentuk paragraf yang efektif
pula. Sehingga sebuah paragraf dikatakan efektif jika dapat menginformasikan berbagai gagasan
atau maksud penulis dalam alur pikiran yang lancar, logis, tepat dan koheren
dalam kaitannya dengan paragraf-paragraf lain yang tersusun membentuk satu unit
yang utuh.
D.
Editing Ragangan
Jika suatu isi/materi/gagasan diibaratkan sebagai gizi tulisan dan
paragraf diibaratkan sebagai daging, maka ragangan atau outline disini
diibaratkan sebagai tulang-tulang yang mengikat daging yang mengandung gizi
tersebut. Maka dari itu, suatu ragangan dalam penulisan karya tulis ilmiah
harus disusun secara sistematis berdasarkan topik dan subtopiknya.
Sistematika ragangan sendiri berkaitan dengan urut-urutan dan letak
subtopik pembahasan yang akan ditulis. Ragangan dalam penulisan buku yang telah
ditetapkan sejak awal bukan merupakan harga mati. Dalam arti, ragangan yang
tidak sesuai dengan isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah masih bisa
dibongkar-pasang untuk menyesuaikannya. Sama halnya dengan judul tulisan yang
sudah di-setting sejak awal boleh saja digonta-ganti sesuai dengan tema
yang disajikannya.[7]
Ragangan dapat saja diubah saat penulisan sedang berjalan atau
nanti diakhir penulisan. Cara yang dapat dilakukan untuk menyunting ragangan
karya tulis ilmiah adalah dengan cara mengurangi, mengganti, ataumenambahkan
sesuai dengan subtopik kajian. Hal ini hampir mirip dengan cara penyuntingan
isi/materi/gagasan karya tulis ilmiah.
Pada dasarnya ragangan atau outline yang sudah ditulis sejak
awal penulisan harus sudah disesuaikan dengan apa yang akan dibahas dalam
isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Hal ini dikarenakan akan lebih
mudah dalam mengganti ragangan atau outline daripada harus menulis ulang
tema kajiannya. Namun penyuntingan terhadap ragangan atau outline yang
terbaik adalah pada saat finalisasi penulisan, hal ini sekaligus dalam
menentukan halaman pada daftar isi buku.
E.
Editing Kebahasaan
Penulisan karya ilmiah tidak bisa ditulis sembarangan, melainkan
harus menggunakan bahasa yang formal/semi formal. Editing atau penyuntingan terhadap
bahasa perlu dilakukan sebelum buku itu diterbitkan meliputi penggunaan EYD. Bahasa
adalah lambang budaya bangsa, sehingga harus ditulis menggunakan bahasa yanga
baik dan benar.
Editing kebahasaan mempunyai banyak fungsi, diantaranya untuk
standarisasi sebuah buku dan untuk memperindah bahasa tulisan.[8]
Bahasa yang indah akan menarik minat pembaca serta mempercepat pemahaman pembaca.
IV.
KESIMPULAN
1.
Editing
adalah proses memperbaiki naskah dengan cara mengoreksi, memeriksa,
atau meneliti kembali apa yang telah ditulis sebelum diterbitkan. Kegiatan
penyuntingan memiliki bebrapa tujuan, diantaranya adalah :
a.
Menjadikan
naskah atau karangan ilmiah sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan
dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
b.
Untuk
memastikan isi karya disampaikan dengan jelas, tepat dan tidak menyalahi etika.
c.
Untuk
memastikan penyampaian ide dari penulis kepada pembaca disampaikan dalam bahasa
yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
d.
Untuk
memastikan karya yang akan diterbitkan dapat menggambarkan nilai dan identitas
karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
2.
Ada
berbagai cara yang dapat dilakukan dalam penyuntingan terhadap
isi/materi/gagasan dalam karya tulis ilmiah. Pada intinya yang dapat dilakukan
dalam hal ini adalah dengan cara pengurangan, penggantian, dan penambahan
isinya yang relevan dengan topik dan tema kajiannya.
3.
Penyuntingan
paragraf akan menjadikan paragraf tersebut lebih efektif. sebuah paragraf
dikatakan efektif jika dapat
menginformasikan berbagai gagasan atau maksud penulis dalam alur pikiran yang
lancar, logis, tepat dan koheren dalam kaitannya dengan paragraf-paragraf lain
yang tersusun membentuk satu unit yang utuh.
4.
Cara
untuk menyunting ragangan karya tulis ilmiah adalah dengan cara mengurangi,
mengganti, ataumenambahkan sesuai dengan subtopik kajian. Hal ini hampir mirip
dengan cara penyuntingan isi/materi/gagasan karya tulis ilmiah.
5.
Editing
atau penyuntingan terhadap bahasa perlu dilakukan sebelum buku itu diterbitkan
meliputi penggunaan EYD. Fungsi editing : untuk standarisasi sebuah buku dan
untuk memperindah bahasa tulisan.
DAFTAR
PUSTAKA
A. Rahmat Rosyadi, Menjadi
Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia, 2008
Lasa HS, Menulis Itu Segampang
Ngomong, Yogyakarta: Pinus , 2009
Sugihati
, Bahasa Laporan Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
BIODATA
Nama : Nourma Fahmatullahil
Fauziyah
NIM : 123611001
Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
Jurusan : Tadris Fisika
T.T.L. : Grobogan, 08 Juli 1994
Alamat : Jl.
Untung suropati X Plendungan Purwodadi Grobogan
No HP : 085640592464
Pendidikan : SD N 10 Purwodadi
(2001-2006)
MTs. NU Banat Kudus (2006 - 2009)
MA NU
Banat Kudus (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri Walisongo
Semarang (2012 – sekarang )
Email
: nourmaozi08@gmail.com
Nama : Vina Ainuz
Zam-zam
NIM : 123611002
Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
Jurusan : Tadris Fisika
T.T.L. : Grobogan, 13 Desember 1994
Alamat : Ginggang
Tani Rt. 04/01 Gubug Grobogan
No HP : 085712968258
Pendidikan : SD N 1 Ginggang Tani
(2001-2006)
MTs. N Jeketro (2006 - 2009)
MAN
Demak (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri Walisongo
Semarang (2012 – sekarang )
Email
: vina.zamzam@gmail.com
Nama : Zulis Tianingrum
NIM : 123611030
Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
Jurusan : Tadris Fisika
T.T.L. : Pati, 19 Juni 1994
Alamat : Desa
Kletek Rt. 04/02 Pucakwangi Pati
No HP : 081904452619
Pendidikan : SD N Kletek 01
(2001-2006)
MTs. Matholi’ul Huda Pucakwangi
(2006 - 2009)
MA Matholi’ul
Huda Pucakwangi (2009 - 2012)
Universitas Islam Negeri Walisongo
Semarang (2012 – sekarang )
Email
: zulidriz70@gmail.com
[1] A. Rahmat
Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia Indonesia,
2008, hlm. 100
[2] Sugihati , Bahasa Laporan Penelitian, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007, hlm. 105
[3] A. Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah,
Bogor: Ghalia Indonesia, 2008, hlm. 101
[4]
A.
Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia
Indonesia, 2008, hlm. 102
[5]
A.
Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia
Indonesia, 2008, hlm. 102
[6] Lasa
HS, Menulis Itu Segampang Ngomong, Yogyakarta: Pinus , 2009, hlm. 190
[7] A.
Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia
Indonesia, 2008, hlm. 103
[8]
A.
Rahmat Rosyadi, Menjadi Penulis Profesional Itu Mudah, Bogor: Ghalia
Indonesia, 2008, hlm. 103
