Minggu, 04 Januari 2015

Autobiografi - Rikza Chamami

Autobiografi Rikza Chamami
USAHA KERAS TAK AKAN MENGKHIANATI
Oleh : Vina Ainuz Zam-Zam (123611002)

Namanya Rikza Chamami, biasa di panggil dengan  Rikza. Pria yang dilahirkan 34 tahun silam ini sekarang sudah menjadi sosok yang sukses. Tepat tanggal 20 Maret 1980, Ia dilahirkan dari pasangan suami istri, Chamami Tolchah dan Masfiyah di desa krandon, Kabupaten Kudus. Kedua orang tuanya ini hanya seorang wirausaha di bidang pembuatan sandal. Usaha orang tuanya ini sempat mengalami kebangkrutan ketika adanya krisis ekonomi pada tahun 1998. Maka sejak itu pula, Rikza sudah diajarkan untuk hidup susah dan prihatin.
Sejak kecil Ia sudah merasakan susahnya mencari uang. Sepulang sekolah, Ia bekerja di Bibinya untuk menjual sandal di luar kota bersama suami dari Bibinya itu. Dari hasil kerjanya tersebut, uang yang diperolehnya digunakan untuk membayar keperluan sekolah. Dan setiap bulan Ramadhan, dia tidak pernah bersekolah hanya untuk bekerja mencari uang untuk membantu kedua orang tuanya.
Meskipun Ia bersekolah dan juga harus bekerja, namun pendidikan tetap yang harus diutamakan. Apalagi untuk ilmu agama, Ia sejak kecil sudah di ajar kedua orang tuanya untuk mengaji. Selain itu, Ia sering di ajak kedua orang tuanya untuk menghadiri pengajian ataupun  ziarah ke tempat para wali. Ia juga bersekolah di Madrasah Diniyah selama 2 tahun di Muawanatul Muslimin.
Jenjang pendidikannya yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak kemudian dilanjutkan ke Sekolah Dasar di bawah naungan yayasan Nawa Kartika Kudus kurang lebih selama 8 tahun. Pendidikan Dasarnya harus mengulang 2 tahun lagi karena Ia tidak lolos dalam seleksi masuk ke MTs Qudsiyah. Alhamdulillah, Ia melalui pendidikan di MTs maupun di MA dengan lancar meskipun hanya dengan kesederhanaan.
Perjalanan pendidikannya berlanjut di UIN Walisongo Semarang di jurusan Kependidikan Islam, yang mana Ia selesaikan hanya 3,5 tahun saja dengan gelar lulusan terbaik (IPK 3,72). Selama menempuh di S1, Ia pernah mengalami putus asa karena tidak ada biaya. Tepatnya ketika semester 2, terbesit dalam pikirannya untuk berhenti kuliah saja. Namun, Allah memberikan jalan lain, Ia ikut orang bekerja di suatu Rental Komputer yang terletak di Kudus. Gaji yang Ia peroleh digunakan untuk membayar semester berikutnya. Setelah itu, Ia mulai gemar menulis dan kemudian bergabung di LKM EDUKASI yang ada di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Di tahun 2004, Ia menikah dengan seorang wanita. Dan di tahun itu pula, Ia melanjutkan pendidikan S2 program Pendidikan Islam di UIN Walisongo Semarang. Gelar S2 diperoleh hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja dengan dana beasiswa. Selama itu, Ia belum berpenghasilan tetap. Baru di tahun 2009, ia diangkat menjadi dosen PNS tetap di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Di tahun 2014 ini Ia melanjutkan pendidika S3 Islamic Studies UIN Walisongo Semarang. Sampai saat ini, Ia sudah banyak mengeluarkan karya tulisannya dalam bentuk buku, artikel yang dimuat di koran, jurnal, dan lain-lain. Dari kegemaran menulisnya menghantarkan Ia ke jalan kesuksesannya sekarang ini.

Di balik itu semua, Ia selalu menerapkan hidup dengan berprinsip “tirakat” yang sejak kecil di ajarkan oleh kedua orang tuanya. Yakni hidup sederhana, apa adanya, dan bersaudara dengan siapapun. Dengan kondisi orang tuanya seperti itu, semakin memotivasinya berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Prinsip yang selalu ia pegang teguh “Miskin boleh, sukses harus” membawanya kepada keberhasilan. Sekarang sehari-harinya Rikza mengabdi menjadi dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Rikza kecil anak tukang dandal kini telah bertansformasi menjadi dosen yang disegani. Memang usaha keras itu tak akan mengkhianati. Karena kemiskinan dirasa tidak akan menghambat kesuksesan. Terlebih jika kiat usaha, tidak gengsi dan harus benar-benar bermanfaat baik buat diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar