Autobiografi Rikza Chamami
USAHA KERAS TAK AKAN MENGKHIANATI
Oleh : Vina Ainuz Zam-Zam (123611002)
Namanya Rikza
Chamami, biasa di panggil dengan Rikza.
Pria yang dilahirkan 34 tahun silam ini sekarang sudah menjadi sosok yang sukses.
Tepat tanggal 20 Maret 1980, Ia dilahirkan dari pasangan suami istri, Chamami
Tolchah dan Masfiyah di desa krandon, Kabupaten Kudus. Kedua orang tuanya ini
hanya seorang wirausaha di bidang pembuatan sandal. Usaha orang tuanya ini sempat
mengalami kebangkrutan ketika adanya krisis ekonomi pada tahun 1998. Maka sejak
itu pula, Rikza sudah diajarkan untuk hidup susah dan prihatin.
Sejak kecil Ia
sudah merasakan susahnya mencari uang. Sepulang sekolah, Ia bekerja di Bibinya
untuk menjual sandal di luar kota bersama suami dari Bibinya itu. Dari hasil
kerjanya tersebut, uang yang diperolehnya digunakan untuk membayar keperluan
sekolah. Dan setiap bulan Ramadhan, dia tidak pernah bersekolah hanya untuk
bekerja mencari uang untuk membantu kedua orang tuanya.
Meskipun Ia
bersekolah dan juga harus bekerja, namun pendidikan tetap yang harus
diutamakan. Apalagi untuk ilmu agama, Ia sejak kecil sudah di ajar kedua orang
tuanya untuk mengaji. Selain itu, Ia sering di ajak kedua orang tuanya untuk
menghadiri pengajian ataupun ziarah ke
tempat para wali. Ia juga bersekolah di Madrasah Diniyah selama 2 tahun di
Muawanatul Muslimin.
Jenjang
pendidikannya yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak kemudian dilanjutkan ke
Sekolah Dasar di bawah naungan yayasan Nawa Kartika Kudus kurang lebih selama 8
tahun. Pendidikan Dasarnya harus mengulang 2 tahun lagi karena Ia tidak lolos
dalam seleksi masuk ke MTs Qudsiyah. Alhamdulillah, Ia melalui pendidikan di
MTs maupun di MA dengan lancar meskipun hanya dengan kesederhanaan.
Perjalanan pendidikannya
berlanjut di UIN Walisongo Semarang di jurusan Kependidikan Islam, yang mana Ia
selesaikan hanya 3,5 tahun saja dengan gelar lulusan terbaik (IPK 3,72). Selama
menempuh di S1, Ia pernah mengalami putus asa karena tidak ada biaya. Tepatnya
ketika semester 2, terbesit dalam pikirannya untuk berhenti kuliah saja. Namun,
Allah memberikan jalan lain, Ia ikut orang bekerja di suatu Rental Komputer
yang terletak di Kudus. Gaji yang Ia peroleh digunakan untuk membayar semester
berikutnya. Setelah itu, Ia mulai gemar menulis dan kemudian bergabung di LKM
EDUKASI yang ada di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Di tahun 2004,
Ia menikah dengan seorang wanita. Dan di tahun itu pula, Ia melanjutkan
pendidikan S2 program Pendidikan Islam di UIN Walisongo Semarang. Gelar S2
diperoleh hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja dengan dana beasiswa. Selama
itu, Ia belum berpenghasilan tetap. Baru di tahun 2009, ia diangkat menjadi
dosen PNS tetap di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang.
Di tahun 2014 ini Ia melanjutkan pendidika S3 Islamic Studies UIN Walisongo
Semarang. Sampai saat ini, Ia sudah banyak mengeluarkan karya tulisannya dalam
bentuk buku, artikel yang dimuat di koran, jurnal, dan lain-lain. Dari kegemaran
menulisnya menghantarkan Ia ke jalan kesuksesannya sekarang ini.
Di balik itu
semua, Ia selalu menerapkan hidup dengan berprinsip “tirakat” yang sejak kecil
di ajarkan oleh kedua orang tuanya. Yakni hidup sederhana, apa adanya, dan
bersaudara dengan siapapun. Dengan kondisi orang tuanya seperti itu, semakin
memotivasinya berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Prinsip yang selalu ia
pegang teguh “Miskin boleh, sukses harus” membawanya kepada keberhasilan.
Sekarang sehari-harinya Rikza mengabdi menjadi dosen di Fakultas Ilmu Tarbiyah
Dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Rikza kecil anak tukang dandal kini telah
bertansformasi menjadi dosen yang disegani. Memang usaha keras itu tak akan
mengkhianati. Karena kemiskinan dirasa tidak akan menghambat kesuksesan.
Terlebih jika kiat usaha, tidak gengsi dan harus benar-benar bermanfaat baik
buat diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar