Namaku Vina Ainuz Zam-Zam. Nama yang sangat bagus bagiku. Nama
ini diberikan kedua orang tuaku bermaksud agar aku kelak bisa menjadi orang
yang selalu diharapkan kehadiranku dan membawa manfaat kepada orang lain,
seperti air zam-zam. Aku dilahirkan pada hari selasa legi, tanggal 13
Desember tahun 1994 di sebuah desa yang
sangat nyaman dan sangat mempesona bagiku yaitu di desa GinggangTani, kecamatan
Gubug, kabupaten Grobogan. Aku merupakan anak ketiga dari lima saudara. Namun,
adik laki-laki ku sudah mendahului menghadap Allah SWT pada tahun 2008 di usia
10 bulan. Adik ku meninggal ketika lagi di perjalanan menuju rumah sakit,
penyakit mutaber lah yang diderita adikku pada saat itu. Sehingga, kini aku
anak ketiga dari empat saudara.
Orang tua ku bertempat tinggal di desa GinggangTani sejak mereka
kecil, karena kakek dan nenek ku memang asli warga GinggangTani. Ayah ku sekarang
berusia 52 tahun dan masih bekerja sebagai guru swasta di sebuah yayasan yang
letaknya di belakang rumah ku. Meskipun ayah ku hanya lulusan SMA, namun beliau
di beri kepercayaan mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sejak 24
tahun yang lalu. Sedangkan ibu ku sekarang berusia 47 tahun dan juga masih
berjualan di depan rumah. Ibu ku hanya lulusan SMP, karena lulus dari SMP
beliau menuntut ilmu di pondok pesantren. Saat ini kedua orang tua ku masih
terbebani oleh pembiayaan anak-anaknya sekolah. Meskipun kakak laki-laki ku
sudah berkeluarga sejak dua tahun yang lalu, namun orang tua ku harus biayai
kakak perempuan ku yang masih menyelesaikan skripsinya di Universitas Negeri
Surakarta dan aku yang masih berkelut di semester 5 ini, selain itu masih juga
ada adik ku perempuan yang masih duduk di bangku SD.
Sejak kecil, alhamdulillah aku selalu di rawat oleh kedua orang
tua ku dengan kasih sayangnya. Aku pun masih ingat ketika ayah ku dengan
sabarnya menuntun ku belajar naik sepeda, mengajariku membaca dan mengaji
setiap selesai solat magrib. Aku lalui masa kecil ku dengan bahagia sebagaimana
sewajarnya sebagai seorang anak-anak, bermain dengan riangnya, mendapatkan
kasih sayang utuh dari kedua orang tuaku, oh sungguh indahnya dunia
kanak-kanak.
Ku mulai karir pendidikan ku di sekolah yang berdiri dengan
kokohnya di tengah desa GinggangTani,
sekolah yang di beri nama TK Yafalah. Disana aku mendapatkan banyak ilmu
baru yang diberikan oleh guru ku, dan aku masih ingat guru ku bernama bu
Amin, sampai sekarang pun Beliau masih
mengajar di TK tersebut. Banyak teman dan banyak pengalaman yang ku peroleh
disana. Dan seringnya setelah pulang sekolah, kami selalu bermain bersama di
sebuah perkampungan. Tidak memandang itu anaknya siapa ataupun jenis kelaminnya
apa, kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain di dunia kami, dan
anehnya kata ibu ku, aku termasuk anak yang tomboy,
karena paling susah kalau di suruh pakai rok. Di TK Yafalah aku menuntut ilmu
dengan teman seperjuangan ku selama satu tahun. Setelah itu, aku melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di SD N 1 GinggangTani. Sekolah yang
letaknya di samping persawahan itu tidak jauh dengan rumahku, sehingga ketika
berangkat sekolah aku selalu bersepeda dengan teman-teman ku. Pemandangan yang
tidak membosankan ku nikmati ketika bernagkat sekolah, hamparan sawah, gunung
yang berjejeran, sungguh ku menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Prestasi yang ku
peroleh selama di SD cukup membuat ku puas, selalu mendapatkan peringkat tiga
besar di kelas, pernah di ikut sertakan lomba se-kecamatan, lulus dengan nilai
yang bagus. Bagiku itu semua tidak lepas dari do’a kedua orang tua ku dan usaha
ku selama itu. Pernah kejadian yang menurutku itu sangat menyeramkan, ketika
aku mewakili sekolah untuk mengikuti perkemahan antar SD se-kecamatan, waktu
itu masih subuh dan saat aku selesai mandi di sungai, perjalanan menuju tenda dimana jalanan sangat
petang, aku seperti melihat makhluk ghaib di tepi jalan. Aku dan temanku pun langsung lari sekencang mungkin menuju
tenda. Banyak cerita yang ku dapatkan selama aku duduk di sekolah dasar.
Perjalanan pendidikan ku pun berlanjut. Setelah lulus dari SD
pada tahun 2006, aku melanjutkan pendidikan di sekolah berbasis islami yang
letaknya di desa tetangga, yakni MTs N Jeketro. Aku pun selalu jalan kaki
ketika berangkat sekolah karena memang jaraknya hanya 100 meter dari rumah.
Menurutku sekolah itu termasuk salah satu sekolah terfavorit di Kabupaten, jadi
aku bangga bisa diterima menjadi siswa disana, meskipun aku masuk di kelas
regular. Ketika pengumuman hasil Ujian Semester Ganjil di kelas VII, aku
mendapatkan peringkat pertama di kelas ku. Sehingga aku di semester genap nya
harus pindah di kelas unggulan. Hal itu sudah menjadi aturan di MTs N Jeketro.
Aku sangat bangga dengan prestasi ku itu, dan lebih bahagia nya lagi setelah
itu aku selalu menjadi salah satu siswa di kelas unggulan selama tiga tahun
belajar disana. Namun, ada hal yang kurang aku sukai menjadi siswa unggulan,
karena kami merasa di pandang “wah” dengan siswa regular dan akhirnya mereka
minder untuk berteman dengan kami. Tapi kan kalau menurut ku, kami juga siswa
yang biasa, yang tidak “wah”, yang juga butuh teman seperti yang lainnya,
karena kami juga ingin bersosialisasi dengan yang lainnya agar pengalaman kami
bertambah. Pengalaman yang pernah aku peroleh ketika kelas VIII aku di percaya
sekolah untuk mewakili lomba mata pelajaran Biologi se-Kabupaten. Aku sangat
senang dan bangga pula bisa mendapatkan kepercayaan itu. Namun Tuhan
berkehendak lain, aku tidak lolos ke babak berikutnya, meski demikian aku
jadikan sebagai pengalaman agar kelak menjadi lebih baik lagi. Disana aku juga
memiliki sahabat-sahabat yang baik yang menemani ku berjuang hingga lulus,
mereka ada Fani, Rinda, Vaiq, Amal, dan Afifah. Dan sampai sekarang pun
hubungan kami masih sangat harmonis meskipun suda h sibuk dengan dunianya
msing-masing. Aku selesai menempuh di MTs N Jeketro pada tahun 2009 dengan
nilai UN yang sangat memuaskan bagi ku. Dan itu semua jelas karena do’a orang
tua ku yang selalu menemani setiap langkah ku.
Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk melanjutkan
sekolah lagi. Aku melanjutkan di sekolah berbasis islam pula di Demak, yaitu
MAN Demak. Tak tau kenapa aku bisa bersekolah disana, yang jelas sebelumnya aku
berkeinginan selain bersekolah, aku juga ingin menimba ilmu di pondok
pesantren. Dan akhirnya, orang tua ku memilihkan sekolah tersebut dan aku di
titipkan di sebuah pondok pesantren yang letak nya tidak jauh dengan sekolah
ku, yakni di Pondok Pesantren Putri Al-ishlah. Ada suatu peristiwa yang sampai
saat ini tidak pernah ku lupa, ketika aku di antar Bapak ku untuk mengikuti MOS
sebagai siswa baru. Saat itu Bapak ku sedang perjalanan pulang dengan
mengendarai motor, dengan kelajuan yang tinggi Bapak terjatuh dari motor dan
mengalami luka yang parah di kepala nya. Seketika Bapak langsung di bawa ke
rumah sakit yang berletak di depan sekolah ku, dan aku pun menunggu Bapak yang
dalam keadaan tidak sadar seorang diri
sembari menunggu Ibu ku yang sedang perjalanan ke rumah sakit. Akhirnya Bapak
ku di rujuk ke RS Tlogorejo Semarang yang peralatannya lebih lengkap. Bapak ku menjalani
operasi di bagian kepala nya, kata dokter ada penggumpalan darah di luar
otaknya. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar dan selama seminggu di
rumah sakit, Bapak mendapatkan penanganan yang baik sehingga keadaan Bapak
semakin membaik. Kejadian itu tidak akan
pernah ku lupa sampai saat ini, dan sebagai motivasi ku untuk tetap semangat
belajar. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama sekolah di Demak, aku pernah
di ikut sertakan lomba Pidato Bahasa Indonesia antar santri se-kabupaten dan
alhamdulillah aku mendapatkan juara I. Aku bersekolah di MAN Demak mengambil
jurusan IPA di kelas XI dan XII. Meskipun aku selalu mendapatkan peringkat di
kelas, tetapi aku tak pernah di ikut sertakan lomba mewakili sekolah. Selain
ilmu yang ku dapatkan, aku juga mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti
ekstrakurikuler Pramuka dan PMR. Aku lulus pada tahun 2012 dengan nilai UN yang
cukup.
Dengan izin Allah, aku melanjutkan menuntut ilmu di Perguruan
Islam negeri di kota Semarang, IAIN Walisongo Semarang tepatnya. Aku sudah
berada di semester 5 di jurusan pendidikan Fisika, menurutku di semester ini
adalah tingkat kejenuhan yang paling tinggi yang di alami oleh setiap
mahasiswa. Begitu pun yang ku alami sekarang ini, dengan tugas yang tiap hari
makin bertambah, aku pun harus melalui nya dengan semangat seperti di semester
awal dulu. Menurutku, kelelahan yang dialami oleh mahasiswa tidak sebanding
dengan kelelahan yang dialami oleh orang tuanya untuk tetap berjuang agar
anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi darinya. Dan ini
merupakan motivasi yang ku tanamkan dalam diriku. Kesabaran, ketekukan, dan
ketabahan yang dimiliki oleh kedua orang tua ku menjadi pelajaran yang harus ku
miliki pula untuk tetap bertahan dalam zona kehidupan ini. Dan aku berkeinginan
kelak aku bisa membalas jasa kedua orang tua ku selama ini, meskipun itu sangat
mustahil jika aku bisa membalas semuanya. Yang bisa ku lakukan saat ini memenui
keinginan kedua orang tuaku untuk saat ini yakni berkuliah di jurusan
pendidikan, iya karena kedua orang tua ku ingin salah satu anaknya ada yang
meneruskan perjuangan Bapak yakni menjadi seorang guru. Dan aku lakukan ini
dengan ikhlas, karena ridho Allah terletak di ridho kedua orang tua ku.
Amiiinnn, semoga.

Aminn Yaa Rabb, Mas mohon maaf ya dek belum bisa bantu sampean dan belum bisa membahagiakan bapak dan ibu kita.
BalasHapusSemangat ya dek, semoga Allah SWT selalu meridhoi dan memberkahi setiap langkah sampean, dan senantiasa menjaga kedua orang tua kita dan keluarga kita. Amin yaa Rabb
Salam kangen dan sayang dari Maza
hehehehe,, itu cuma tugas kuliah mas waktu itu..
BalasHapusamin ya allah, doa nya saja mas tinggal sedikit lagi ini,