Selasa, 04 November 2014

AUTOBIOGRAFI-VAZ


THIS IS MY LIFE-VAZ

Namaku Vina Ainuz Zam-Zam. Nama yang sangat bagus bagiku. Nama ini diberikan kedua orang tuaku bermaksud agar aku kelak bisa menjadi orang yang selalu diharapkan kehadiranku dan membawa manfaat kepada orang lain, seperti air zam-zam. Aku dilahirkan pada hari selasa legi, tanggal 13 Desember  tahun 1994 di sebuah desa yang sangat nyaman dan sangat mempesona bagiku yaitu di desa GinggangTani, kecamatan Gubug, kabupaten Grobogan. Aku merupakan anak ketiga dari lima saudara. Namun, adik laki-laki ku sudah mendahului menghadap Allah SWT pada tahun 2008 di usia 10 bulan. Adik ku meninggal ketika lagi di perjalanan menuju rumah sakit, penyakit mutaber lah yang diderita adikku pada saat itu. Sehingga, kini aku anak ketiga dari empat saudara.
Orang tua ku bertempat tinggal di desa GinggangTani sejak mereka kecil, karena kakek dan nenek ku memang asli warga GinggangTani. Ayah ku sekarang berusia 52 tahun dan masih bekerja sebagai guru swasta di sebuah yayasan yang letaknya di belakang rumah ku. Meskipun ayah ku hanya lulusan SMA, namun beliau di beri kepercayaan mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sejak 24 tahun yang lalu. Sedangkan ibu ku sekarang berusia 47 tahun dan juga masih berjualan di depan rumah. Ibu ku hanya lulusan SMP, karena lulus dari SMP beliau menuntut ilmu di pondok pesantren. Saat ini kedua orang tua ku masih terbebani oleh pembiayaan anak-anaknya sekolah. Meskipun kakak laki-laki ku sudah berkeluarga sejak dua tahun yang lalu, namun orang tua ku harus biayai kakak perempuan ku yang masih menyelesaikan skripsinya di Universitas Negeri Surakarta dan aku yang masih berkelut di semester 5 ini, selain itu masih juga ada adik ku perempuan yang masih duduk di bangku SD.
Sejak kecil, alhamdulillah aku selalu di rawat oleh kedua orang tua ku dengan kasih sayangnya. Aku pun masih ingat ketika ayah ku dengan sabarnya menuntun ku belajar naik sepeda, mengajariku membaca dan mengaji setiap selesai solat magrib. Aku lalui masa kecil ku dengan bahagia sebagaimana sewajarnya sebagai seorang anak-anak, bermain dengan riangnya, mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuaku, oh sungguh indahnya dunia kanak-kanak.
Ku mulai karir pendidikan ku di sekolah yang berdiri dengan kokohnya di tengah desa GinggangTani,  sekolah yang di beri nama TK Yafalah. Disana aku mendapatkan banyak ilmu baru yang diberikan oleh guru ku, dan aku masih ingat guru ku bernama bu Amin,  sampai sekarang pun Beliau masih mengajar di TK tersebut. Banyak teman dan banyak pengalaman yang ku peroleh disana. Dan seringnya setelah pulang sekolah, kami selalu bermain bersama di sebuah perkampungan. Tidak memandang itu anaknya siapa ataupun jenis kelaminnya apa, kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain di dunia kami, dan anehnya kata ibu ku, aku termasuk anak yang tomboy, karena paling susah kalau di suruh pakai rok. Di TK Yafalah aku menuntut ilmu dengan teman seperjuangan ku selama satu tahun. Setelah itu, aku melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di SD N 1 GinggangTani. Sekolah yang letaknya di samping persawahan itu tidak jauh dengan rumahku, sehingga ketika berangkat sekolah aku selalu bersepeda dengan teman-teman ku. Pemandangan yang tidak membosankan ku nikmati ketika bernagkat sekolah, hamparan sawah, gunung yang berjejeran, sungguh ku menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Prestasi yang ku peroleh selama di SD cukup membuat ku puas, selalu mendapatkan peringkat tiga besar di kelas, pernah di ikut sertakan lomba se-kecamatan, lulus dengan nilai yang bagus. Bagiku itu semua tidak lepas dari do’a kedua orang tua ku dan usaha ku selama itu. Pernah kejadian yang menurutku itu sangat menyeramkan, ketika aku mewakili sekolah untuk mengikuti perkemahan antar SD se-kecamatan, waktu itu masih subuh dan saat aku selesai mandi di sungai,  perjalanan menuju tenda dimana jalanan sangat petang, aku seperti melihat makhluk ghaib di tepi jalan. Aku dan temanku  pun langsung lari sekencang mungkin menuju tenda. Banyak cerita yang ku dapatkan selama aku duduk di sekolah dasar.
Perjalanan pendidikan ku pun berlanjut. Setelah lulus dari SD pada tahun 2006, aku melanjutkan pendidikan di sekolah berbasis islami yang letaknya di desa tetangga, yakni MTs N Jeketro. Aku pun selalu jalan kaki ketika berangkat sekolah karena memang jaraknya hanya 100 meter dari rumah. Menurutku sekolah itu termasuk salah satu sekolah terfavorit di Kabupaten, jadi aku bangga bisa diterima menjadi siswa disana, meskipun aku masuk di kelas regular. Ketika pengumuman hasil Ujian Semester Ganjil di kelas VII, aku mendapatkan peringkat pertama di kelas ku. Sehingga aku di semester genap nya harus pindah di kelas unggulan. Hal itu sudah menjadi aturan di MTs N Jeketro. Aku sangat bangga dengan prestasi ku itu, dan lebih bahagia nya lagi setelah itu aku selalu menjadi salah satu siswa di kelas unggulan selama tiga tahun belajar disana. Namun, ada hal yang kurang aku sukai menjadi siswa unggulan, karena kami merasa di pandang “wah” dengan siswa regular dan akhirnya mereka minder untuk berteman dengan kami. Tapi kan kalau menurut ku, kami juga siswa yang biasa, yang tidak “wah”, yang juga butuh teman seperti yang lainnya, karena kami juga ingin bersosialisasi dengan yang lainnya agar pengalaman kami bertambah. Pengalaman yang pernah aku peroleh ketika kelas VIII aku di percaya sekolah untuk mewakili lomba mata pelajaran Biologi se-Kabupaten. Aku sangat senang dan bangga pula bisa mendapatkan kepercayaan itu. Namun Tuhan berkehendak lain, aku tidak lolos ke babak berikutnya, meski demikian aku jadikan sebagai pengalaman agar kelak menjadi lebih baik lagi. Disana aku juga memiliki sahabat-sahabat yang baik yang menemani ku berjuang hingga lulus, mereka ada Fani, Rinda, Vaiq, Amal, dan Afifah. Dan sampai sekarang pun hubungan kami masih sangat harmonis meskipun suda h sibuk dengan dunianya msing-masing. Aku selesai menempuh di MTs N Jeketro pada tahun 2009 dengan nilai UN yang sangat memuaskan bagi ku. Dan itu semua jelas karena do’a orang tua ku yang selalu menemani setiap langkah ku.
Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi. Aku melanjutkan di sekolah berbasis islam pula di Demak, yaitu MAN Demak. Tak tau kenapa aku bisa bersekolah disana, yang jelas sebelumnya aku berkeinginan selain bersekolah, aku juga ingin menimba ilmu di pondok pesantren. Dan akhirnya, orang tua ku memilihkan sekolah tersebut dan aku di titipkan di sebuah pondok pesantren yang letak nya tidak jauh dengan sekolah ku, yakni di Pondok Pesantren Putri Al-ishlah. Ada suatu peristiwa yang sampai saat ini tidak pernah ku lupa, ketika aku di antar Bapak ku untuk mengikuti MOS sebagai siswa baru. Saat itu Bapak ku sedang perjalanan pulang dengan mengendarai motor, dengan kelajuan yang tinggi Bapak terjatuh dari motor dan mengalami luka yang parah di kepala nya. Seketika Bapak langsung di bawa ke rumah sakit yang berletak di depan sekolah ku, dan aku pun menunggu Bapak yang dalam keadaan tidak sadar  seorang diri sembari menunggu Ibu ku yang sedang perjalanan ke rumah sakit. Akhirnya Bapak ku di rujuk ke RS Tlogorejo Semarang yang peralatannya lebih lengkap. Bapak ku menjalani operasi di bagian kepala nya, kata dokter ada penggumpalan darah di luar otaknya. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar dan selama seminggu di rumah sakit, Bapak mendapatkan penanganan yang baik sehingga keadaan Bapak semakin  membaik. Kejadian itu tidak akan pernah ku lupa sampai saat ini, dan sebagai motivasi ku untuk tetap semangat belajar. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama sekolah di Demak, aku pernah di ikut sertakan lomba Pidato Bahasa Indonesia antar santri se-kabupaten dan alhamdulillah aku mendapatkan juara I. Aku bersekolah di MAN Demak mengambil jurusan IPA di kelas XI dan XII. Meskipun aku selalu mendapatkan peringkat di kelas, tetapi aku tak pernah di ikut sertakan lomba mewakili sekolah. Selain ilmu yang ku dapatkan, aku juga mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dan PMR. Aku lulus pada tahun 2012 dengan nilai UN yang cukup.

Dengan izin Allah, aku melanjutkan menuntut ilmu di Perguruan Islam negeri di kota Semarang, IAIN Walisongo Semarang tepatnya. Aku sudah berada di semester 5 di jurusan pendidikan Fisika, menurutku di semester ini adalah tingkat kejenuhan yang paling tinggi yang di alami oleh setiap mahasiswa. Begitu pun yang ku alami sekarang ini, dengan tugas yang tiap hari makin bertambah, aku pun harus melalui nya dengan semangat seperti di semester awal dulu. Menurutku, kelelahan yang dialami oleh mahasiswa tidak sebanding dengan kelelahan yang dialami oleh orang tuanya untuk tetap berjuang agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi darinya. Dan ini merupakan motivasi yang ku tanamkan dalam diriku. Kesabaran, ketekukan, dan ketabahan yang dimiliki oleh kedua orang tua ku menjadi pelajaran yang harus ku miliki pula untuk tetap bertahan dalam zona kehidupan ini. Dan aku berkeinginan kelak aku bisa membalas jasa kedua orang tua ku selama ini, meskipun itu sangat mustahil jika aku bisa membalas semuanya. Yang bisa ku lakukan saat ini memenui keinginan kedua orang tuaku untuk saat ini yakni berkuliah di jurusan pendidikan, iya karena kedua orang tua ku ingin salah satu anaknya ada yang meneruskan perjuangan Bapak yakni menjadi seorang guru. Dan aku lakukan ini dengan ikhlas, karena ridho Allah terletak di ridho kedua orang tua ku. Amiiinnn, semoga.

2 komentar:

  1. Aminn Yaa Rabb, Mas mohon maaf ya dek belum bisa bantu sampean dan belum bisa membahagiakan bapak dan ibu kita.

    Semangat ya dek, semoga Allah SWT selalu meridhoi dan memberkahi setiap langkah sampean, dan senantiasa menjaga kedua orang tua kita dan keluarga kita. Amin yaa Rabb
    Salam kangen dan sayang dari Maza

    BalasHapus
  2. hehehehe,, itu cuma tugas kuliah mas waktu itu..
    amin ya allah, doa nya saja mas tinggal sedikit lagi ini,

    BalasHapus